oleh

Polres Pinrang ‘Main-Main’ Tangani Kasus Pembongkaran Makam Jenazah Covid-19?

-Berita-227 views

MAKASSAR – Koalisi Aktivis Makassar (KAM) melakukan aksi unjuk rasa di Mapolda Sulsel Jl. Perintis Kemerdekaan KM 14, Rabu, 15 September 2021 siang, terkait adanya pembongkaran makam pasien Covid-19.

KAM mendesak Kapolda Sulsel untuk mengevaluasi kinerja Kapolres Pinrang AKBP M. Arief Sugihartono, S.IK yang dinilai lamban tangani kasus pembongkaran makam pasien Covid-19.

Dalam orasinya, orator menyebutkan jika kasus pembongkaran makam pasien Covid-19 ini bermula pada Jumat, 10 September 2021.

Puluhan mahasiswa ini mendatangi Mapolda Sulsel untuk mempertanyakan, “terkait tindakan tegas Kepolisian terkait pembongkaran makam pasien Covid-19 ini,” ucap Rian Jendral Lapangan.

Karena menurutnya, “sampai hari ini belum ada yang ditersangkakan padahal pihak keluarga pembongkaran makam tersebut sudah diakui. Tetapi pihak Polres Pinrang belum menetapkan tersangka sehingga kami duga ada unsur tebang pilih dalam penetapan kasus tersebut, karena ini sangat berbanding terbalik dengan kasus sebelumnya yang terjadi di Pare-Pare,” tuturnya.

Lanjut, bahkan pihak keluarga pembongkaran makam tersebut, “melakukan pengocoran terhadap kuburan yang telah digalih untuk menghalangi petugas dalam melakukan penyelidikan dan kami juga menduga bahwa pihak keluarga yang melakukan penggalian itu merupakan salah satu pengusaha besar di daerah tersebut dan kami beranggapakan jangan sampai ini yang menjadi penghambat penetapan kasus tersebut, dan terkait tindakan yang dilakukan sudah sangat jelas mellanggar aturan. Tapi hingga hari ini keluarga yang melakukan tindakan kasus tersebut yang dipanggil hanya sebagai saksi dan belum menetapkan tersangka, yang secara langsung sebagai bukti permulaan tersangkanya,” teriak dalam orasinya.

Terpisah, dikonfirmasi Tim Pencari Fakta Infomakassar.net, Kamis, 16 September 2021, dini hari, salah satu oknum keluarga pembongkaran makam pasien Covid-19 di Pinrang inisial TD membenarkan jika dirinya yang memindahkan jenazah Ibunya.

“Kami sendiri yang ambil karna jarak dari makam yang lainnya sekitar 500 meter. Waktu dimakamkan banyak air karena tempat pemakaman tersebut adalah tanah persawahan yang jika digali maka keluar air. Saya sempat terganggu, saya dimimpikan kalau Ibu saya tenggelam itu berulang kali. Setelah itu saya koordinasi kepada pihak tim gugus bagian penguburan,” tukasnya.

Selain itu, TD mengambil jenazahnya pada malam hari dengan siuasi hujan deras. “Saya tidak tau kalau itu ada pelanggarannya. Saya ambil malam jenazahnya dengan situasi hujan deras,” tuturnya.

Kemudian, TD sadar jika lokasi tersebut adalah makam pasien Covid-19. “Memang pada waktu itu dimakamkan dipemakaman Covid, karena tanahnya becek jauh dari pemukiman makanya saya pindahkan,” akuinya.

TD pernah diperiksa Polres Pinrang dan mengakui jika hal ini dilakukan, “karena inisiatif sendiri. Saya sudah dipanggil sama pihak Polres diperiksa sekitar 2 atau 3 jam,” terangnya.

Komentar

News Feed