oleh

Pemberantasan Narkoba di Era Pandemi, Apresiasi dan Konsistensi

MAKASSAR – Dr. Arqam Azikin Analis Politik dan Kebangsaan mengutarakan bahwa masifnya peredaran narkoba tak pernah mengenal musim. Bahkan di saat pandemi makin bergejolak dan hidup kian tak bisa tertebak. Peredaran narkoba sudah nyaris seperti wabah yang berisiko mengancam hajat hidup banyak orang. Terutama generasi milenial, yang kelak jadi penerus bangsa.

Baru-baru ini, di sebuah hotel mewah di kawasan Veteran, Kota Makassar, Polda Sulsel menggagalkan peredaran narkoba jenis sabu sebanyak 40 kilogram dan 4.000 butir ekstasi. Kejadian ini lantas membuat geger banyak pihak. Sebab, kasus kali ini, jadi salah satu yang cukup besar di tahun 2021 di saat pandemi.

Ada dua orang yang berhasil dibekuk polisi. Ada tiga koper berisi barang haram yang disita. Menurut dugaan, dua orang pengedar tersebut merupakan kurir dengan jaringan sampai mancanegara. Kurir tersebut segera ditahan untuk diinvestigasi. Pelacakan jejaring pengedar segera dilakukan untuk mengungkap siapa bandar di balik pengiriman barang tersebut. Kriminalitas terkait narkoba harus segera dihentikan karena berpotensi merugikan banyak orang.

Keberhasilan ini patut diapresiasi. Pencegahan pengedaran berpuluh-puluh kilogram narkoba yang sukses ini jadi pemacu semangat pemberantasan di negeri “darurat narkoba”. Namun, apresiasi itu perlu dibarengi dengan konsistensi dan sikap tak cepat puas. Agar para penegak hukum tidak terlena dan terus memaksimalkan kinerjanya.

Peredaran narkoba di masa pandemi mestinya lebih dicegah dengan cara-cara mutakhir. Banyak modus-modus baru yang sebelumnya tak pernah ada. Ada cara-cara penyelundupan yang bisa saja luput diperhatikan. Hal itu menuntut analisa yang mendalam dan holistik. Beberapa faktor perlu di-upgrade dan alat analisa kudu diperlebar untuk memetakan beragam poin yang jadi unsur penyebaran narkoba.

“Kita bisa membayangkan, penyeludupan narkoba berdalih membawa obat-obatan covid-19. Narkoba disamarkan dengan mengganti bungkusnya untuk mengelabui petugas pemeriksa. Hal ini bukan tidak mungkin terjadi, bukan?,” kutip kutlisan Dr. Arqam Azikin Analis Politik dan Kebangsaan.

Dengan kemungkinan-kemungkinan seperti itu, yang pada akhirnya menjadi korban paling rentan dari kerusakan narkoba adalah para pemuda. Menurut berbagai data, pengguna narkoba dari kalangan anak muda lebih tinggi jumlahnya dibanding dari kalangan yang lebih tua. Selain itu, jika kita melihat kasus yang barusan terjadi, ada 40 kilogram barang bukti narkoba yang disita, hal ini menandakan permintaan terhadap barang haram tersebut tak bisa dikatan rendah.

Jika benar narkoba yang jumlahnya beribu-ribu itu diorder oleh anak muda, maka betapa mengerikannya efek generasi muda sulsel di masa depan yang telah dirusak oleh narkoba. Di titik inilah konsistensi diperlukan dari hulu sampai hilir penanganan kriminalitas narkoba. Dari upaya pencegahan dengan mensosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkoba, hingga persoalan penangkapan kurir dan bandar narkoba, serta tak bisa lepas, menyangkut urusan konstitusi terkait narkoba di negara kita sebagai ancaman nonmiliter yang perlu konsep dan metode tepat bagi kelangsungan eksistensi berbangsa.

Komentar

News Feed