oleh

Hindari Diri Menjadi Penyebar Hoaks dengan Teliti Memeriksa Informasi

KEPULAUAN SITARO – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi kali ini menyapa warga Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara. Pada hari ini (12/8), pembahasan temanya adalah “Bersama Lawan Kabar Bohong” yang diikuti 1.104 peserta dari berbagai kalangan umur dan profesi secara virtual. Program ini diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Empat orang narasumber yang akan membawakan materi adalah Founder Barta1.com, Agustinus Hari; Dicky Sofjan dari Indonesian Consortium for Religious Studies Pascasarjana Universitas Gadjah Mada; dosen Sosiologi Agama Institut Agama Kristen Negeri Manado, Lidya Kandowangko; serta narablog dan pemengaruh (influencer), Yusran Darmawan. Webinar ini dimoderatori Hesty Imaniar selaku jurnalis. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Pemateri pertama, Yusran Darmawan, menyampaikan tema “Kita Lawan Cyberbullying”. Menurut dia, fenomena negatif di internet, antara lain panjat sosial yang menjadikan media sosial untuk memanipulasi diri, terjebak dalam ruang gema atau echo chamber yang membuat warganet dalam lingkup kubu-kubuan, body shaming, serta perundungan siber. “Solusinya adalah detoks digital. Batasi waktu berselancar di media sosial, fokus, hindari perdebatan berlarut-larut, jangan merespon ketika emosi, serta batasi pertemanan,” imbuhnya.

Selanjutnya, Agustinus Hari menyampaikan materi etika digital berjudul “Jangan Mudah Terpengaruh Berita Hoaks”. Ia mengatakan, penyebaran hoaks paling banyak berasal dari media sosial dan diperparah dengan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. “Cara untuk mengatasi informasi hoaks, perhatikan judul berita yang biasanya provokatif, periksa sumbernya terpercaya atau tidak, cermati gaya penulisan, periksa tanggal berita dan foto, serta jangan menyebarkan sebelum memeriksa dulu kebenarannya,” tutur dia.

Pemateri ketiga, Dicky Sofjan, menyampaikan tentang budaya digital bertema “Melawan dan Menangkal Hoaks”. Menurut dia, di era pandemi Covid-19 belakangan ini, banyak bermunculan hoaks terkait isu kesehatan. Bahkan, banyak warganet yang menjadi korban lantaran keinginan untuk hidup sehat, menyangkut masalah hidup dan mati, termasuk bidang khusus dan sulit diverifikasi, serta terkait dengan pemasaran obat dan suplemen makanan. “Dalam suatu survei, masyarakat sukar membedakan hoaks atau bukan karena mendapatkan informasinya dari orang yang kesannya dapat dipercaya ataupun dari orang terdekat,” jelasnya.

Lidya Kandowangko, sebagai narasumber terakhir, menyampaikan keamanan digital berjudul “Keamanan Digital untuk Melawan Kabar Bohong”. Ia mengatakan, pola internet sehat yang wajib diterapkan di dunia digital, antara lain tidak menyebarkan konten atau situs pornografi, menghindari akses konten kekerasan dan terorisme, tidak menyebar ujaran kebencian, dan mencermati sumber informasi yang tersebar di media sosial. “Terkait hoaks, jangan sungkan untuk klarifikasi, kemudian menjelaskan kepada keluarga, teman, atau rekan kerja,” ujar dia.

Setelah pemaparan materi oleh semua narasumber, moderator melanjutkan kegiatan dengan sesi tanya jawab yang disambut antusias oleh para peserta. Panitia memberikan uang elektronik senilai masing-masing Rp 100.000 bagi 10 penanya terpilih. Webinar literasi digital ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta.

Salah satu peserta, Erli Pardede, bertanya tentang cara edukasi anak dalam menggunakan sosial media. Dicky Sofjan mengatakan, orang tua harus bisa menjelaskan etika bermedia sosial kepada anak-anak. “Pantau kegiatan anak di internet agar pengawasan bisa maksimal,” pesannya.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(***)

Komentar

News Feed