oleh

Jangan Umbar Data Pribadi, Tutup Celah Kesempatan bagi Pelaku Kejahatan

MINAHASA UTARA – Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” kembali diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siberkreasi bersama Dyandra Promosindo. Kali ini program dilaksanakan secara virtual pada 6 Agustus 2021 di Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Kolaborasi ketiga lembaga ini dikhususkan pada penyelenggaraan Program Literasi Digital di wilayah Sulawesi. Adapun tema saat ini adalah “Lindungi Diri, Pahami Fitur Keamanan Digital”.

Empat orang narasumber tampil dalam seminar ini. Masing-masing yakni, PR Manager Lembaga Keamanan Siber dan Digital/Communication and Information System Security Research Center (CiSSrec), Ibnu Dwi Cahyo; Perintis Kawasan Non Tunai Indonesia dan Relawan TIK, Agusnia Hasan Sulur; Sekjen Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (APTIKOM) Sulawesi Utara, Quldo Kalnde; dan Entrepreneur, Adhitya Lanae. Sedangkan moderator yaitu Nurul Nur Azizah selaku Jurnalis. Pada program ini diikuti oleh 922 peserta dari berbagai kalangan. Rangkaian Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi menargetkan peserta sebanyak 57.550 orang.

Acara dimulai dengan sambutan berupa video dari Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. “Infrastruktur digital tidak berdiri sendiri. Jadi, saat jaringan internet sudah tersedia, harus diikuti dengan kesiapan-kesiapan pengguna internetnya agar manfaat positif internet dapat dioptimalkan untuk membuat masyarakat semakin cerdas dan produktif,” kata Presiden.

Materi tentang kecakapan digital dibawakan oleh Ibnu Dwi Cahyo yang menyampaikan tema “Menjaga Keamanan Data Pribadi di Internet”. Menurut dia, banyak orang asyik bermedia sosial lantaran di sana menerapkan sebuah algoritma. Sehingga, munculnya konten maupun iklan di beranda selalu disesuaikan dengan laman yang sering diakses serta hal-hal yang kerap diunggah, dikomentari, atau disebarkan. Sedangkan ancaman yang sering dan perlu diwaspadai di internet adalah cyberstalking, cyberbullying, nine predation, offensive content, serta sextortion.

Selanjutnya, Adhitya Lanae menyampaikan materi etika digital berjudul “Memahami Aturan Bertransaksi di Dunia Digital”. Ia mengatakan, transaksi digital dalam dilakukan melalui marketplace atau lokapasar, e-commerce atau e-dagang, serta toko online yang umumnya terdapat di akun-akun media sosial. Agar lebih aman, perhatikan testimoni serta rating penjual untuk memeriksa kualitas barang dan tokonya. “Ada strategi pemasaran nakal yang perlu dihindari potensi penipuannya, misalnya promo beli satu gratis satu. Biasanya ada penjual nakal yang akhirnya hanya mengirimkan satu barang dengan alasan promo sudah berakhir,” jelas dia.

Pemateri ketiga Agusnia Hasan Sulur Mangalung menyampaikan tentang budaya digital bertema “Cara dan Legalitas Bayar Tagihan Online”. Menurut dia, kegiatan belanja online semakin lebih mudah karena telah didukung fitur pembayaran digital atau digital payment yang dapat digunakan hanya dengan gawai. Tipe-tipenya antara lain, mobile banking, SMS banking, internet banking, serta uang elektronik atau dompet digital.

Adapun Quldo Kalnde sebagai narasumber terakhir menyampaikan keamanan digital berjudul “Jenis-Jenis Penipuan di Internet dan Cara Menghindarinya”. Ia mengatakan, kejahatan konvensional kini merambah ke internet lantaran lebarnya kesempatan bagi seseorang untuk melaksanakan aksi kejahatannya. Bahkan, berdasarkan data Patroli Siber, selama Januari 2020 hingga Juli 2021, dari total 2.259 laporan yang diterima jumlah penipuan online mencapai 649 laporan dan penyebaran konten provokatif sejumlah 1.048 laporan.

Webinar literasi digital ini mendapat apresiasi dan dukungan dari banyak pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan mengedukasi para peserta. Salah satunya, Yuwono di Minahasa Utara yang bertanya tentang upaya apa yang bisa dilakukan untuk menghapus rekam jejak digital yang negatif di dunia maya. Menanggapi hal tersebut, Quido Kalnde mengatakan, penghapusan jejak digital secara utuh sangat sulit dilakukan, karena masih ada celah untuk membangkitkan kembali data-data. Sehingga, cara paling efektif yang dapat dilakukan berupa memenuhi isi konten hanya dengan hal yang positif.

Program Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang disampaikan narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(***)

Komentar

News Feed