oleh

Literasi Digital Sulawesi 2021, Berdakwah di Media Digital dengan Ilmu dan Etika

BUOL – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia bersama Siber Kreasi dan Dyandra Promosindo menggelar rangkaian Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” secara virtual di Buol, Sulawesi Tengah pada 17 Juni 2021. Konten positif dan edukatif dalam program ini diharapkan dapat menangkal konten negatif di dunia maya sehingga menciptakan provinsi cerdas sekaligus menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era industri 4.0. Kegiatan yang diadakan secara gratis ini diikuti oleh 473 peserta. Rangkaian Literasi Digital “Indonesia Makin Cakap Digital” di Sulawesi ini menargetkan 57.550 peserta.

Kegiatan yang mengusung tema “Dakwah yang Ramah di Internet” tersebut menghadirkan empat narasumber, yaitu Setiaji Eko Nugroho selaku Ketua Presidium MAFINDO; Elia Nusantari Damopolii selaku Duta Bahasa Gorontalo 2020 sekaligus penyiar radio RRI; Anis Mawardi selaku pendidik di SMK Negeri Biau, Buol; dan Eka Vickraien Dangkua selaku Dosen Teknik Informatika Universitas Negeri Gorontalo.

Sebagai pembuka diskusi, Setiaji Eko Nugroho yang mengusung tema “Digital Skills: Cakap Bermedia Digital bagi Pemuka Agama” membagikan rumus tentang cara membangun konten dakwah sesuai platform di media sosial. Untuk Facebook, pendakwah bisa menggunakan narasi, foto, infografis/meme, dan video berdurasi 1-2 menit; sementara untuk Instagram bisa menggunakan foto kotak, infografis/meme, dan video berdurasi satu menit. Sementara itu, konten dakwah untuk Twitter bisa disampaikan dalam bentuk narasi pendek yang disertai tagar, sedangkan untuk unggahan di Youtube bisa dikemas dalam bentuk video dengan konsep yang lebih segar.

Perangkat yang perlu disiapkan dalam pembuatan video, diantaranya kamera; tripod atau stabilizer; mikrofon atau clip-on; pencahayaan; komputer atau laptop; serta, perangkat lunak untuk mengedit video. “Pilihlah sampul konten yang menarik dan segera mengajukan centang biru jika pengikut sudah mulai banyak,” kata Setiaji.

Hadir selanjutnya adalah Elya Nusantari Damopolii yang membagikan materi “Digital Ethics: Etika dalam Berdigital.” Elia menuturkan, ada empat etika berdigital, yaitu kesadaran, kebajikan, integritas, dan tanggung jawab. Selain itu, ia juga menuturkan 10 netiket dalam berinteraksi di dunia maya, diantaranya mengingat keberadaan orang lain, menggunakan standar perilaku yang sama baik di dunia nyata maupun maya, berpikir sebelum berkomentar, menghormati waktu dan bandwith orang lain, “Gunakan bahasa yang sopan, membagi ilmu dan keahlian, berdiskusi secara sehat, menghormati privasi orang lain, tidak menyalahgunakan kekuasaan, dan memaafkan kesalahan orang lain,” ucapnya.

Narasumber ketiga adalah Anis Mawardi yang menyampaikan materi tentang “Digital Culture: Literasi dalam Berdakwah di Dunia Digital”. Anis mengungkap bahwa mengaji secara daring menjadi kebutuhan sekaligus solusi bagi masyarakat yang sibuk beraktivitas, terlebih di masa pandemi. Tak heran jika sekarang banyak dai/daiah populer di internet seperti Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, UAS, Gus Mus, Buya Yahya, hingga Gus Baha.

Menurut Anis, membuat konten dakwah yang baik harus diawali dengan niat yang ikhlas. Pendakwah juga harus memiliki ilmu agama yang mumpuni dan tidak terjebak dalam paham anti otoritas. “Pendakwah sah-sah saja dalam mengingatkan pemerintah terkait kebijakan, kesenjangan ekonomi, lingkungan, dan sebagainya. Namun, tidak boleh menyinggung SARA, menghindari fitnah, dan menyampaikan sesuatu di luar kapasitasnya,” kata Anis.

Narasumber terakhir adalah Eka Vickraien Dangkua dengan tema “Digital Safety: Amankan Diri dan Sesama di Ruang Digital.” Dalam sesinya, Eka membagikan tips melindungi data pribadi di dunia digital. Beberapa yang diungkapnya adalah menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda di setiap akun platform digital, mengatur tingkat keamanan privasi akun, berhati-hati dalam mengunggah data pribadi, hindari membagi data pribadi tersebut dengan orang lain, tidak mengunggah data pribadi orang lain, hindari wifi publik saat bertransaksi keuangan, pilih aplikasi yang terpercaya, perbarui perangkat lunak yang digunakan, dan waspada dengan aktivitas mencurigakan dari akun yang tidak dikenal.

“Orang tua perlu mendampingi dan mengawasi anak ketika berselancar di dunia digital. Hal ini dapat meminimalisir resiko anak terpapar pornografi, pelecehan seksual, kekerasan digital, serta kecanduan gawai,” imbuh Eka.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan  materi yang informatif yang pastinya disampaikan oleh para narasumber terpercaya. Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(***)

Komentar

News Feed