oleh

Literasi Digital Sulawesi 2021, Cara Bijaksana, Aman, dan Nyaman dalam Bermedia Sosial

BARRU – Rangkaian Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo kembali menggelar kegiatan diskusi virtual pada Senin, 7 Juni 2021. Kolaborasi ketiga lembaga tersebut dikhususkan pada penyelenggaraan Literasi Digital di wilayah Sulawesi.

Dalam webinar yang digelar di Kota Barru, Sulawesi Selatan dengan dihadiri oleh 179 peserta ini, mengambil tema tentang “Aman, dan Nyaman dalam Bermedia Sosial”.

Hadir sejumlah pembicara yaitu, Muannas selaku Wakil Ketua Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Sulawesi Selatan, Asriadi Rizal selaku Tim Redaksi Barru.Org, Mudaksir yang merupakan Mahasiswa Bahasa Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM), serta Ahmad Afandy selaku Wartawan Rakyatku.Com. Webinar tentang cara berinteraksi di dunia sosial ini dimoderatori oleh Nana Izwan.

Pembicara pertama yaitu Muannas, Wakil Ketua Mafindo Sulawesi Selatan. Ia membawakan materi dengan judul “Positif, Kreatif, dan Aman di Media Internet”. Makin meluasnya penggunaan internet sekarang ini memberikan ruang lebih lebar bagi masyarakat untuk berkreasi dan memanfaatkannya. Berdasarkan data yang dirilis Januari 2021 terkait penggunaan internet, dari 274,9 juta penduduk Indonesia terdapat sebanyak 345,3 juta telepon seluler yang terhubung dengan internet. Kemudian, dari jumlah tersebut sebanyak 202,6 juta merupakan pengguna internet aktif serta 170 juta di antaranya aktif di media sosial.

“Agar kita bisa terus positif dan kreatif dalam bermedia sosial, ada sejumlah keterampilan dasar yang harus dimiliki seseorang sehingga bisa mengambil dan memberi manfaat. Diantaranya, penggunaan media sosial, skill dalam menghasilkan konten atau content creator, mesin pencari atau misalnya bagaimana caranya konten agar mudah ditemukan, menganalisa data, dan keterampilan agar interaksi kita selamat dan aman,” ujar Muannas.

Sementara itu, narasumber kedua, Asriadi Rizal, Tim Redaksi Barru.Org Sulawesi Selatan memaparkan materi bertema “Bebas namun Terbatas : Berekspresi di Media Sosial”. Ia mengatakan, meskipun akun yang dibuat oleh masyarakat di media sosial itu milik pribadi, namun tetap saja harus menjaga norma dan etika ketika mengunggah sesuatu. “Perlu ada kedewasaan dan rasa tanggung jawab bagi semua pengguna sosial media,” katanya.

Asriadi juga menceritakan pengalamannya dalam membangun media sosial Barru.Org sejak 2015 silam. Di kala itu, akses internet para pengguna platform-nya tidak semudah sekarang. Tidak hanya orang dewasa, kini anak-anak pun sudah antusias mengakses internet maupun media sosial. Saat ini, jangkauan pemirsa sosial media Barru.Org telah mencapai 14.500 audiens. “Kami mengangkat potensi wisata di Barru agar lebih dikenal orang-orang banyak. Hingga saat ini, media sosial kami menjadi pusat sebaran informasi wisata serta hal lain terkait Barru,” kata Asriadi.

Selanjutnya, Mudaksir, Mahasiswa Bahasa Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) menjadi pemateri ketiga yang mengambil tema tentang “Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar di Dunia Digital”. Menurut dia, sejumlah kategori kejahatan berbahasa yang harus dipahami para pengguna media sosial agar bisa dihindari, antara lain ujaran kebencian atau hate speech, berita bohong atau palsu (hoax), hasutan, ancaman, pencemaran nama baik, serta penghinaan.

Di Indonesia sendiri sudah terdapat payung hukum berupa UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang menjadi dasar dalam pelanggaran berbahasa di media sosial. “Jadi penggunaan bahasa yang baik itu berarti bahasa yang sudah sesuai etika yang berlaku di masyarakat, sedangkan bahasa yang benar berarti penggunaan bahasa yang telah sesuai dengan ketentuan hukum,” ucap Mudaksir.

Pemateri terakhir adalah Ahmad Afandy, Wartawan Rakyatku.Com, yang membawakan materi tentang “Rekam Jejak Digital”. Ia mengatakan, “Jejak digital merupakan segala rekaman perjalanan seseorang yang terekam melalui aplikasi baik media sosial, GPS, atau keseluruhan data digital baik di komputer maupun daring,” jelas dia.

Jejak digital ibarat pisau bermata dua jika tidak dikelola secara baik. Jejak digital terbagi menjadi dua macam, masing-masing adalah pasif dan aktif. Jejak digital pasif, misalnya, terjadi ketika seseorang berselancar di dunia maya, maka alamat IP tempat dia menggunakan internet akan terlacak oleh situs yang dia kunjungi. Sedangkan jejak digital aktif merupakan kegiatan yang secara sadar dilakukan user atau pengguna internet. Contohnya, mengunggah data atau informasi ke dunia maya, mengirimkan surat elektronik, serta informasi lain di media sosial. “Kawula muda tanpa sadar mengunggah foto, dan tanpa sadar sudah bisa diakses orang lain, sehingga informasi yang vulgar tersebut menjadi jejak digital merugikan,” ujar Afandy.

Dalam webinar ini, sejumlah peserta cukup antusias dan bertanya kepada narasumber, antara lain Asrul Harahap yang bertanya tentang tata cara membuat konten yang kreatif serta Cahyadi yang bertanya terkait bocornya data pribadi yang diperjual belikan secara daring. Panitia penyelenggara menyiapkan 10 hadiah kepada para penanya dengan total uang elektronik mencapai Rp 1 juta.

Rangkaian kegiatan webinar Literasi Digital merupakan upaya aktif Kemkominfo untuk menghentikan kegiatan hoaks dan kejahatan internet lain. Yakni, dengan meningkatkan kemampuan kognitif melalui sejumlah pelatihan kecakapan Literasi Digital. Konten positif dan edukatif dalam program ini diharapkan dapat menangkal konten negatif yang ada di dunia maya. Sehingga, nantinya akan dapat mempersiapkan masyarakat yang lebih unggul dalam memanfaatkan internet secara positif, kritis, dan kreatif di era Industri 4.0. Masyarakat juga diharapkan dapat memproteksi berbagai informasi kemudian dapat memahami pesan dan berkomunikasi efektif dengan orang lain dalam berbagai bentuk. Sehingga akhirnya membentuk pola pikir dan pandangan yang kritis dan kreatif.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif dari para narasumber terpercaya.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(***)

Komentar

News Feed