oleh

Literasi Digital Sulawesi 2021, Bijak Berbelanja Online Sesuai Kebutuhan dan Budget

BULUKUMBA – Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) Republik Indonesia dan Siber Kreasi bersama Dyandra Promosindo menggelar rangkaian program Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi. Pada Senin, 7 Juni 2021, telah dilangsungkan webinar yang mengangkat tema ‘Bagaimana Berbelanja Online dengan Dompet Digital?’. Kegiatan diskusi virtual kali ini difokuskan di Kota Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan dan dihadiri oleh 141 peserta.

Hadir sebagai narasumber, di antaranya adalah Mike Rini Sutikno selaku pendiri Mitra Rencana Edukasi (MRE) yang akan menyampaikan paparan tentang digital skill dengan tema ‘Cara Menggunakan Dompet Digital dalam Transaksi Elektronik’. Hadir pula Mimi Hilzah, pemilik Mimilicious yang juga seorang pemuka pendapat yang akan membahas mengenai digital ethics dengan tema ‘Memahami Aturan di Dunia Digital’.

Dosen Jurnalistik UIN Makassar, Andi Fauzia Astrid juga akan menjadi pemapar tentang digital culture dengan tema ‘Pilih Mana, Nabung atau Belanja Online?’. Dan terakhir, pegiat literasi dan budaya Sulawesi Selatan, Andhika Mappasomba akan memaparkan tentang digital safety, dengan tema ‘Main Aman saat Belanja Online’.

Kegiatan diawali dengan sambutan berupa video dari Presiden Joko Widodo yang menyalurkan semangat literasi digital untuk kemajuan bangsa. Presiden menyampaikan bahwa kehadiran internet harus mampu meningkatkan produktivitas masyarakat, membuat UMKM naik kelas, memperbanyak UMKM terhubung ke platform e-dagang. Sehingga internet bisa memberikan nilai tambah ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat.

Presiden juga menuturkan, literasi digital adalah kerja besar. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan perlu dukungan dari seluruh komponen bangsa, agar masyarakat semakin melek digital. Presiden pun memberikan apresiasi kepada 110 lembaga dan berbagai komunitas yang terlibat dalam program Literasi Digital nasional ini.

“Saya harap gerakan ini menggelinding dan terus membesar. Bisa mendorong berbagai inisiatif di tempat-tempat lain, melakukan kerja-kerja konkret di tengah masyarakat agar makin cakap memanfaatkan internet untuk kegiatan edukatif dan produktif,” tukas Presiden.

Sebagai pemapar pertama, Mike Rini Sutikno sangat mengapresiasi program Literasi Digital yang digagas Kemenkominfo bersama Siber Kreasi ini. Dalam konteks berbelanja di era digital, kata Mike, seseorang perlu mempunyai kemampuan literasi yang baik. Sebab apabila tidak, aktivitas berbelanja yang menyenangkan bisa menjadi ancaman membahayakan. Jika tidak dikendalikan, maka uang yang diupayakan berminggu-minggu berbulan-bulan bisa habis dalam hitungan hari.

“Jadi walaupun belanja daring itu menyenangkan, tapi kalau tidak terkendali menjadi tidak menyenangkan. Oleh karena itu, saya sangat mendukung literasi digital. ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ itu makin baik. Tapi, juga harus diiringi dengan literasi keuangannya,” tuturnya.

Sehingga, kata Mike, semakin cakap seseorang dalam menggunakan teknologi digital, maka semestinya juga semakin cakap pula dalam mengelola keuangan. Dalam sebuah survei tahun 2020 dan melibatkan 7.000 responden mengenai motivasi belanja daring, diketahui alasan utama seseorang senang berbelanja adalah karena harga lebih murah, banyak diskon, dan promo. Harapannya adalah agar lebih hemat dalam berbelanja.

Sayangnya, yang banyak terjadi adalah belanja daring tidak melulu membuat seseorang menjadi lebih hemat pengeluaran. Karena mendapatkan barang murah, orang terlalu senang dan merasa sudah banyak melakukan penghematan, dan akhirnya malah membeli barang-barang lain. “Jadi yang tadinya mau lebih hemat malah jadi lebih boros. Sehingga yang tadinya pingin hemat, malah terdorong konsumtif,” terang Mike.

Ada tiga syarat sehingga berbelanja daring menjadikan pengeluaran lebih hemat. Pertama, dilakukan berdasarkan kebutuhan dan bukan kebutuhan yang diada-adakan. Kedua, dilakukan sesuai daftar belanja. Tanpa daftar belanja, biasanya belanja menjadi tidak terkontrol. Ketiga, dilakukan dengan pembayaran lunas. Usahakan hindari fitur bayar nanti atau pay later.

Sebagai pengingat, belanja daring bisa membuat boros, jika, pertama lapar mata. Untuk menekan hasrat ini buatlah daftar belanja dan kurangi frekuensi berselancar di situs belanja daring. Kedua, rasa takut atas ketertinggalan atau fear of missing out (FOMO). Para pemasar sering menggunakan strategi promo besar-besaran, seperti Harbolnas untuk mengundang para pembeli.

“Dibikin strategi pemasaran sedemikian rupa sehingga Anda merasa kalau tidak belanja di hari itu, maka Anda akan kehilangan kesempatan belanja barang bagus dengan harga murah,” jelas Mike.

Dalam kesempatan sama, dosen Jurnalistik UIN Makassar, Andi Fauzia Astrid menyampaikan bahwa belanja daring tampaknya sudah bukan lagi menjadi budaya baru. Fenomena belanja daring juga semakin semarak setelah pandemi. Kehadiran media sosial, seperti Facebook, Instagram, Whatsapp Group, menjadi pilihan paling diminati pengusaha rumahan yang didominasi ibu-ibu rumah tangga.

Pada bagian lain Fauziah menyampaikan, terdapat lima kompetensi literasi digital dalam isu budaya. Pertama, memahami budaya di ruang digital. Kedua, memproduksi budaya di ruang digital. Ketiga, distribusi budaya di ruang digital. Keempat, partisipasi budaya di ruang digital. Terakhir, kolaborasi budaya di ruang digital.

Pegiat literasi dan budaya Sulawesi Selatan, Andhika Mappasomba, memaparkan setidaknya ada beberapa alasan orang berbelanja langsung maupun secara daring. Berbelanja secara langsung berkaitan dengan kepercayaan, pemahaman teknologi, ketersediaan jaringan internet, keuntungan menyeleksi, kemudahan menyampaikan keluhan, dan keterjangkauan penjual serta kemudahan retur jika barang tidak sesuai.

Di lain pihak, belanja daring memberikan kemudahan dan kepraktisan dari segi waktu, bisa dilakukan di mana saja, tidak perlu membawa uang karena ada dompet digital, bisa dengan sistem COD (bayar di tempat), serta memangkas akomodasi. Namun, belanja daring juga memiliki kekurangan, misalnya kesulitan untuk menyampaikan keluhan secara langsung, ada resiko barang di luar ekspektasi, serta menjadi korban visual editing atau penipuan efek kamera.

“Tips agar tidak tergoda belanja daring untuk gaya hidup. Pertama, jangan percaya barang murah. Kedua, jangan beli jika ragu. Ketiga, bisnis yang betul-betul ramai tidak perlu ramai dalam berpromosi. Keempat, jangan silau dengan gaya hidup orang lain. Kelima, jangan takut berbeda dalam cara berbelanja untuk memisahkan kebutuhan hidup dan gaya hidup,” tutur Andhika.

Sementara itu, Mimi Hilzah, pendiri Mimilicious menyampaikan soal digital ethics. Sebagai penjual daring, Mimi berdasarkan pengalamannya pribadi membagikan tiga tips mujarab yang bisa dicontoh para penjual daring lain. Pertama, jangan sungkan mengatakan maaf jika ada kesalahan walaupun sedikit.

Kedua, ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya dan sesering mungkin. Itu tidak ada ruginya dan tidak akan menjatuhkan harga diri Anda. Ketiga, ucapkan sedikit doa buat mereka. Tidak perlu spesifik agama tertentu. “Terimakasih kak, sehat selalu. Begitu saja sudah cukup,” kata Mimi.

Sedangkan bagi pembeli, Mimi memberikan enam tips sebelum bertransaksi di media digital. Pertama, carilah toko atau penjual yang terpercaya. Mimi menyarankan bertransaksi di lokapasar, untuk menekan risiko yang tidak diinginkan atau penipuan, sehingga dana tidak diteruskan ke penjual dan dikembalikan ke pembeli.

Kedua, pilihlah toko daring yang punya reputasi bagus. Ketiga, periksa deskripsi produk yang akan dibeli. Keempat, periksa ulasan dari pembeli, mulai dari ulasan baik sampai yang buruk.

“Kelima, mengutamakan adab dan bahasa yang sopan dan baik dalam mengirim pesan. Keenam, tetap berkomunikasi baik dengan penjual apabila terjadi masalah pada proses pemesanan ataupun setelah barang tiba,” pungkas Mimi.

Setelah pemaparan materi oleh keempat narasumber, kegiatan Literasi Digital dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang dipandu moderator. Terlihat antusias dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber berkaitan dengan tema dan materi yang telah disampaikan. Sepuluh peserta dengan pertanyaan terbaik uang elektronik masing-masing senilai Rp 100.000.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai dari Mei 2021 hingga Desember 2021 dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang pastinya disampaikan oleh para narasumber terpercaya.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(***)

Komentar

News Feed