oleh

Literasi Digital Sulawesi 2021, Etika Nyaman dan Aman Dalam Bermedia Sosial

MAKASSAR – Berlangsung secara virtual, Webinar Literasi Digital diselenggarakan dengan topik ‘Aman dan Nyaman Dalam Bermedia Sosial’ di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, ( 2/6/2021) siang.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Aribowo Sasmito selaku Co-Founder & Fast-Check Specialist MAFINDO, Jumrana selaku dosen Ilmu komunikasi Universitas Halu Oleo Kendari, Sunarti Sain selaku Aliansi Jurnalis Independen Makassar dan Arham Kendari sebagai key opinion leader (KOL). Kegiatan yang dihadiri 248 peserta secara online ini merupakan bagian dari rangkaian Program Literasi Digital Nasional: Indonesia Makin Cakap Digital.

Materi pertama disampaikan oleh Arham kendari selaku Key Opinion Leader (KOL) yang membahas mengenai Digital Skill dengan tema ‘Positif, Kreatif, aman, dan Nyaman di Internet’. Arham Memaparkan bagaimananya pekerjaannya sebagai KOL (Key Opinion Leader) dan juga Influencer. Menurut Arham, bersosial media mempunyai banyak manfaat,  melalui sosial media memudahkan seseorang berinteraksi, dapat menjalin relasi bisnis dan pekerjaan, serta membangun personal branding.

“Melalui medsos, saya memulai usaha dan pertemanan dengan banyak orang yang semula tidak saya kenal.”, ungkap Arham Kendari. Jika dimanfaatkan dengan baik, bermedia sosial akan banyak memberi manfaat,” tambahnya.

Arham Kendari juga mengingatkan kepada peserta, untuk tidak mudah percaya oleh berita-berita di media sosial dan juga senantiasa menghargai karya orang-orang lain.

Narasumber kedua yang memaparkan materi ialah Aribowo Sasmito, Co-Founder dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Aribowo membawakan tema ‘Bebas Namun Terbatas Berekspresi di Sosial Media’. Diawali dengan memperkenalkan organisasi MAFINDO, Aribowo memaparkan bahaya berita bohong atau hoax. Ia memberikan prinsip etis dalam bermedia digital.

“Media sosial memang memberi kebebasan, tapi bebas yang terbatas,” lanjut Aribowo juga memberikan informasi seputar ciri-ciri hoax beserta kasus-kasus hoax yang ada di Indonesia. Aribowo menutup pemaparannya dengan quotes.

“Apa yang tidak baik didunia nyata, tidak baik juga didunia virtual atau media sosial,” kata Aribowo.

Selanjutnya, narasumber ketiga adalah Jumrana dengan materi ‘Penggunaan Bahasa yang Baik dan Benar di Media Sosial’. Di awal penyampaiannya, menurut Jumrana di era digital setiap orang adalah pembuat, penyebar, dan pengguna media digital. Jumara juga memaparkan jika masyarakat Indonesia memiliki tingkat pemahaman literasi digital yang masih rendah.

Kemampuan menerima dan mengolah informasi pun rendah, sehingga rawan adu persepsi yang melahirkan ujaran kebencian, mudah terpancing emosi dan terprovokasi. Jumara melanjutkan, dalam melakukan aktivitas di media sosial, masyarakat harus memahami etika bermedia sosial. Bagaimana menggunakan bahasa yang baik dan benar dan bagaimana berkomunikasi dengan memiliki pemahaman, dan memiliki kecakapan serta sikap yang baik.

“Jangan menggunakan kalimat sarkasme, sebutan dan julukan yang tidak baik, sindir menyindir yang bisa menyinggung orang lain,” tegas Jumrana. Dengan menganut etika dalam bermedia sosial, aktivitas kita lebih bermanfaat. Bagaimanapun dunia digital akan merekam semua hasil unggahan, postingan, dan penyebaran informasi yang dibagikan. Akan meninggalkan jejak digital yang bisa jadi merugikan diri sendiri.

Narasumber terakhir yang memaparkan materinya pada episode ini yaitu Sunarti Sain, yang membahas mengenai digital safety dengan tema ‘Kenali dan Pahami Rekam Jejak di Era Digital’. Sunarti mengawali presentasinya dengan menjelaskan ‘Apa Itu Jejak Digital?’.

Ia juga memaparkan prinsip dasar keamanan dalam berinternet, lalu menjelaskan hal apa yang harus dijaga. Penggunaan media digital harus diikuti literasi digital yang baik, maka daya rusaknya lebih banyak ketimbang manfaatnya.

“Dalam sehari, sekitar 8 jam pengguna internet berselancar, mengunggah gambar, video dan lainnya, tanpa disadari meninggalkan banyak jejak digital yang bisa dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.”, jelas Sunarti.

Oleh karena itu kata dia, kita harus pandai dan awas memilah informasi yang disebarkan. Terutama tidak mengunggah informasi pribadi di media sosial.  Diakhir pemaparannya Sunarti menekankan mengenai  prinsip “Safety First”, prinsip ini bisa menjaga anda aman dan nyaman beraktivitas di dunia digital.

Setelah pemaparan materi oleh keempat narasumber, kegiatan Literasi Digital dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang diarahkan oleh moderator. Terlihat antusias dari para peserta yang mengirimkan banyak pertanyaan kepada para narasumber berkaitan dengan tema dan materi yang telah disampaikan. Lima peserta beruntung, mendapatkan uang elektronik sebesar Rp. 100.000,- untuk setiap pesertanya. Kegiatan ditutup dengan kesimpulan yang disampaikan oleh moderator.

Dengan penyampaian, kegiatan Literasi Digital mendapatkan apresiasi dan dukungan dari semua pihak karena menyajikan konten dan informasi yang baru, unik, dan pastinya mengedukasi para peserta webinar. Kegiatan Literasi Digital ini disambut positif oleh masyarakat khususnya Sulawesi.

“Dari sharing hari ini saya menjadi lebih paham pentingnya dan bagaimana menggunakan sosial media dengan bijak serta pentingnya jejak digital,” ujar Nur Afdila yang merupakan salah satu peserta dari kegiatan literasi digital.

Kegiatan Literasi Digital ‘Indonesia Makin Cakap Digital’ di Sulawesi akan diselenggarakan secara virtual mulai 31 Mei 2021 hingga 7 Desember 2021, dengan berbagai konten menarik dan materi yang informatif yang pastinya disampaikan oleh narasumber terpercaya. Kegiatan Webinar Literasi Digital ini bertujuan untuk mendukung percepatan transformasi digital, agar masyarakat makin cakap digital dalam memanfaatkan internet demi menunjang kemajuan bangsa.

Bagi masyarakat yang ingin mengikuti sesi webinar selanjutnya, informasi bisa diakses melalui https://www.siberkreasi.id/ dan akun sosial media @Kemenkominfo dan @siberkreasi, serta @siberkreasisulawesi khusus untuk wilayah Sulawesi.(***)

Komentar

News Feed