oleh

Dua Proyek Rabat Beton Ammasangan Pinrang 500 Juta Dikerja ‘Kencin Berlari’

-Berita-134 views

PINRANG – Proyek Rabat Beton dua lokasi di Desa Ammasangan Pinrang Kecamatan Lanrisang disebut dikerja ‘kencin berlari’ alias asal asalan.

Baca juga: Hampir Seluruh Badan Jalan Rabat Beton Desa Ammasangang Pinrang Retak

Baca juga: Rabat Beton Desa Ammasangang Pinrang, Ada Kesalahan Analisa Hingga Labrak Permen PUPR

Lokasi itu di Dusun Siporennu dan Dusun Bontopucu. Kini ke dua kondisi Rabat Beton tersebut memprihatinkan, pasalnya, baru beberapa bulan sudah mengalami kerusakan.

Ke dua Proyek ini menelan anggaran kurang lebih Rp500 juta rupiah menggunakan Dana Desa tahun anggaran 2020.

Berdasarkan hasil pantauan Infomakassar.net bersama warga, Selasa, (4/5/21) siang, kondisi ke dua Rabat Beton itu mengalami keretakan dan terkelupasnya material atas badan Beton. Selain itu, kerikil pada Rabat Beton ini berhamburan keluar dan berlubang.

Dikonfirmasi, Rabu, (5/5/21) sore, LSM Pemuda Anti Korupsi (Paku) di Pinrang rupanya sudah mengikuti sejak direncanakan Rabat Beton ini pada 2020 silam hingga selesai.

Melalui Ketua LSM Paku, Putra dilansir hasil percakapan Tim Infomakassar.net, menyebutkan adanya dugaan ‘kongkalikong’ antara pelaksana dengan Kepala Desa Ammasangan.

“Pembangunan Rabat Beton Dusun Siporennu dengan volume 332 meter dan Pembangunan Rabat Beton pinggir lapangan di Dusun Bontopucu dengan volume 293 meter bersumber dari ABPN Dana Desa tahun anggaran 2020, memang kondisinya rusak parah. Hampir seluruh bagian atas Rabat Beton terlihat Hancur disertai dengan hamburan batu krikil yang bertebaran dan berlubang, hal ini kemungkinan disebabkan karena mutu Rabat Beton ini tidak berkualitas atau tidak mencapai target sehingga dicurigai adanya upaya melawan hukum disertai pemufakatan jahat antara pelaksana dan Kepala Desa,” lanjut dikatakan.

“Tidak mungkin dalam waktu beberapa bulan dengan anggaran yang cukup besar yang memiliki volume hanya sekiam meter itu tiba tiba rusak parah, tidak logis. Bukannya sebelum dikerjakan itu harus melalui tahapan tahapan yang didasari dengan juknis atau RAB atau perencanaan yang cukup matang. Kami sejak awal mulai direncanakan hingga selesai proyek itu sudah tahu cerita mulai tukang hingga warga sekitar, kami sinyalir Kepala Desa dan Pelaksana ada main mata atau kongkalikong sehingga terjadi permainan volume, kami tahu material yang mereka gunakan itu seperti apa bentuknya, kami lengkap ada dokumentasi sejak titik nol pekerjaan itu. Kalau sudah jadi seperti itu siapa lagi yang merugi kalau bukan negara,” kutip percakapan Putra kepada Tim Infomakassar.net.

Hingga berita ini diturunkan Kepala Desa Ammasangan enggan berkomentar meski sudah dikonfirmasi berkali kali.

Komentar

News Feed