oleh

Sembilan Proyek ‘Siluman’ Ratusan Miliar Pemprov Sulsel Disebut Gagal Kontruksi, Siapa Yang Bertanggung Jawab?

MAKASSAR – Proyek yang diduga ‘siluman’ milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulawesi Selatan (Sulsel) dengan anggaran kurang lebih Rp200 Miliar yang dibagi menjadi sembilan (9) paket disebut bermasalah.

Proyek ‘Gurita’ tersebut merupakan Pembangunan Ruas Jalan Sabbang – Tallang Kabupaten Luwu Utara menelan anggaran kurang lebih Rp108 Miliar, dua paket menggunakan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) 2019 dan 2020.

Kemudian, Proyek Pembangunan Jembatan Sungai Lemolengko Kebupaten Luwu Timur menelan anggaran kurang lebih Rp3,2 Miliar menggunakan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK) 2020.

Setelah itu, Proyek Pembangunan Jalan Ruas Bua – Rantepao Kabupaten Luwu menelan anggaran kurang lebih Rp132 Miliar, dua paket menggunakan anggaran APBD 2020.

Dan, Proyek Jembatan Bua – Rantepao Cs. Kabupaten Luwu. Proyek Pembangunan Jembatan Sungai Makale Kabupaten Sidrap. Proyek Preservasi Jalan Ruas SPN Batua Kota Makassar. Proyek Penanganan Pasca Bencana Alam Ruas Jalan Pallangga – Sapaya Kabupaten Gowa. Proyek Preservasi Jalan Ruas Ujung Lamuru – Palattae Kabupaten Bone.

Ke sembilan (9) proyek ini disebut mengalami capaian Bobot Deviasi yang Kritis pada progres pekerjaan tahap pertama. Dan kini proyek itu disebut mengalami gagal kontruksi.

Menurut Koordinator Investigasi DPP LSM Perak Sulsel Muh Taufan Yunus, Minggu, (25/4/21) siang, jika ke sembilan kasus tersebut akan dia seret masuk ke meja hijau lantaran dinilai sangat membahayakan dan merugikan negara.

“Pembangunan Jembatan Sungai Lemolengko di Kab, Luwu Timur gagal diduga kontraktor pelaksana kegiatan pekerjaan di lapangan tidak mampu mengerjakan proyek tersebut, dikarenakan beberapa hal diantaranya perencanaan teknis kontruksi yang tidak sesuai dengan kondisi pekerjaan lapangan, diduga perencanaan tersebut tidak dilakukan dengan tata cara perencanaan konstruksi jembatan yang tidak melalui tahapan perencanaan yang benar proyek tersebut,” tuturnya.

Lanjut ia menjelaskan, dengan Bobot Deviasi yang Kritis dan diberikan penambahan waktu 50 hari kerja untuk pelaksanaan penyelesaian pekerjaan namun pihak kontraktor baru melakukan kegiatan pemancangan tiang Pondasi Pancang Beton Spun Pile diameter 40, panjang 10 meter pada akhir Januari tahun 2021.

“Diduga pihak kontraktor tidak mengikuti petunjuk teknis pekerjaan atau rencana kerja dan syarat-syarat di mana pengadaan alat pancang harusnya menggunakan alat pancang hidrolik otomatis. Tapi pihak kontraktor hanya menggunakan alat pancang manual atau biasa disebut pancang Lego-lego yang relatif anggaran lebih murah dengan berat hammer 2,5 ton akhirnya proses pemancangan tiang sulit mencapai target yang direncanakan,” lanjut dikatakan.

Akhirnya pekerjaan dihentikan karna waktu penambahan pelaksanaan pekerjaan sudah berakhir dan karena minimnya ketersediaan alat yang disiapkan dan over lapping waktu pelaksanaan kegiatan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak kontraktor, yang berakibat gagalnya Pembangunan Jembatan Sungai Lemolengko di Luwu Timur yang menelan anggaran Rp3.245.856.493,85 APBD Provinsi Sulsel.

“Padahal perencanaan Pembangunan Jembatan Sungai Lemolengko yang terletak di kab Luwu Timur perencanaannya dibuat pada tahun 2019 dan ditenderkan dengan paqu Rp250.000.000 juta dan dimenangkan oleh PT Miftah Multi Design dengan nilai terkoreksi Rp240.000.000 juta. Butuh penelusuran terkait perencanaan dan perlu adanya kajian mendalam apakah kegagalan Pembangunan Jembatan Sungai Lemolengko di Luwu Timur gagal dalam proses desain atau gagal kontruksi atau gagal dalam proses operasional,” jelasnya.

Dia juga menegaskan bahwa “undang-undang telah mengatur barang siapa yang melakukan perencanaan pekerjaan konstruksi yang tidak memenuhi ketentuan ke tehnikkan dan mengakibatkan kegagalan pekerjaan konstruksi atau kegagalan bangunan dapat dikenai pidana paling lama 5 tahun penjara atau dikenakan denda paling banyak 10 persen (sepuluh perseratus) dari nilai kontrak. Kami juga berencana akan membawa kasus ini ke meja hijau,” tegas Bung Topang.

Hingga berita ini diturunkan, Redaksi kesulitan mengkonfirmasi pihak terkait, sehingga menunggu klarifikasi.

Komentar

News Feed