oleh

Semenjak Nurdin Abdullah Diringkus KPK, Putri Dituding Hingga Dinonaktifkan Sebagai Stafsus Gubernur

MAKASSAR – Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan telah mengeluarkan Surat Keputusan penonaktifan staf khusus (Stafsus). SK itu ditandatangani langsung Pelaksana tugas Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman.

“Penonaktifan dilakukan karena ada beberapa alasan. Selain soal beban gaji, mereka juga diketahui sudah tidak bekerja,” kata Kepala Bidang Perencanaan, Pengendalian, dan Evaluasi Pembangunan Daerah Bappelitbangda Sulsel, Andi Rahmi Bahariwaty.

Putri Fatima Nurdin, anak dari sang Gubernur Sulawesi Selatan nonaktif Nurdin Abdullah, Putri dinonaktifkan sebagai staf khusus di Pemprov Sulsel karena dituding bergaji 18 juta rupiah sebulannya.

Putri membantah tudingan itu, kepada media, Kamis, (22/4/21) siang, ia menyampaikan tudingan itu tidak benar adanya.

“Kalau saya pribadi sebagai sespri Bapak Gubernur setiap bulannya menerima 8 juta rupiah perbulan, itu dengan beban kerja mengikuti jadwal pak Gubernur. Bapak mulai beraktifitas setiap hari sekitar jam 7 pagi dan selesainya tidak tentu, kalau sedang padat kadang selesai jam 11 malam,” ucap Putri.

Selain itu kata Putri, “staf khusus Gubernur ada 10 orang dengan pembagian kerja yang sangat jelas untuk mendukung semua aktifitas Gubernur. Dan sebagian besar memang selalu menempel di semua kegiatan Bapak di dalam dan luar kota. Kalau keluar kota, kami dapat SPPD sekitar 200-300 ribu perhari. Jadi 18 juta itu hitungan dari mana?, mungkin yang lihat datanya tidak teliti, dia lihatnya data rapel gaji 2 bulan,” terang Putri.

Sekedar diketahui, Nurdin Abdullah Gubernur Sulsel dinonaktifkan lantaran tersandung kasus dugaan korupsi yang baru baru ini diringkus oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Rujab Gubernur Sulsel Jalan Jenderal Sudirman Makassar. Sejak itu, keluarga NA sapaan akrabnya Nurdin Abdullah diterpa isu isu negatif.

Putri mengakui, sejak sang Ayah (NA) memutuskan terjun ke politik, pihak keluarga sering mendapatkan fitnah. “Sejak awal Bapak memutuskan terjun ke dunia politik, Bapak selalu sampaikan bahwa resiko fitnah itu sangat besar, mulai sejak awal kepemimpinan Nurdin Abdullah di Bantaeng, bunyi ambulance hibah dari Jepang pun dianggap meresahkan warga. Namun sekarang terbukti, kehadiran ambulance tersebut, berhasil menekan angka kematian ibu melahirkan di Bantaeng hingga 0 kasus,” lanjut kata Putri

“Saat Nurdin Abdullah jadi Bupati Bantaeng, ibu-ibu hamil dijemput ambulance secara gratis oleh Pemkab, baik berobat maupun saat akan melahirkan. Contoh lain, adalah berbagai fitnah saat kampanye Gubernur, kemudian isu isu saat hak angket. Jadi ini kami anggap sebagai kerikil dalam perjalanan hidup keluarga kami. Satu hal yang pasti kami sekeluarga tetap saling menguatkan bersama Bapak,” ucap Putri.

Komentar

News Feed