oleh

Kades dan Dusun Kurusumange Maros Dicurigai Buat Dokumen Palsu Lahan Milik Orang Lain?

-Berita, Nasional-219 views

MAROS – Kisruh antar pemilik lahan dengan aparat Desa Kurusumange diprediksi akan masuk ke meja hijau alias pengadilan.

Kisruh itu diakibatkan Kepala Desa Kurusumange dan Kepala Dusun setempat dicurigai berkerjasama untuk menghalang halangi pemilik lahan menguasai lokasi miliknya. Lokasi itu terletak di Kampung Panasakkang, Desa Kuru’sumange, Kec. Mandai, kab. Maros, Sulsel.

Menurut Kuasa Hukum pemilik lahan Andi Azis Alsyad SH yang juga Ketua Lembaga Bantuan Hukum (LBH) D’Raja Nusantara bahwa pihaknya sudah mengambil tindakan dengan memasang papan bicara di lokasi namun sering kali dirusak oleh oknum tak dikenal (OTK), sehingga pihaknya risih dan berencana akan menyelidiki siapa watak pelaku di balik pengrusakan tersebut, untuk menghindari perselisihan antar warga setempat.

“Maka bersama ini kami memperingatkan sebagai bentuk somasi, untuk menghentikan segala kegiatan melawan hukum di tanah milik klien kami, yang telah merugikan klien kami selaku pemilik tanah atau ahli waris dari almarhum Lahija  Bin Bandoe (Lahija Petta Mamangka), sampai dengan adanya penyelesaian dengan klien kami selaku ahli waris,” kutip selebaran somasi tersebut yang diterima Redaksi Infomakassar.net, Minggu (11/4/21).

Tidak hanya itu, pihaknya juga menyebut sudah berupaya untuk melakukan mediasi dengan aparat Desa, seperti Kepala Dusun dan Kepala Desa Kurusumange untuk mempertemukan kliennya namun seakan aparat Desa tersebut menolak dengan alasan tidak masuk akal.

Sehingga Kuasa Hukum pemilik lahan tersebut mencurigai, ada yang disembunyikan antar Kepala Desa dengan Dusun setempat.

Cek and ricek, Kuasa Hukum pemilik lahan itu menyebutkan ada dugaan upaya pelanggaran pidana atas tindakan penyerobotan dan penggelapan barang tidak bergerak dengan menggunakan dokumen palsu di kubuh aparat Desa Kurusumange dan Dusun setempat.

Ditelusuri Infomakassar.net, tanah seluas kurang lebih 300 M2 rupanya ketahuan sudah lama dikuasai oleh aparat Desa Kurusumange bekerjasama dengan Dusun setempat yang diminta oleh Kuasa Hukum pemilik lahan agar mengganti rugi lahan yang dikuasai sebesar kurang lebih Rp450.000.000 juta rupiah atau mengembalikan tanah yang sudah dikuasai kepada ahli waris yang sah dari Lahija Bin Bandoe (Lahija Petta Mamangka).

“Dan sebagai bukti kepemilikan klien kami, (1) SIMANA Boetaja, dengan nomor kohir 152 C1 dengan nomor Persil  43 SII, atas nama Lahija Bin Bandoe, yang terletak di lompok Lahija, kampung panasakkang, Parentana Aroeng Tanralili, Parentana Oetoro Maros, Parentana Makassar. (2) Surat keterangan Kepala Cabang Pajak hasil Bumi tertanggal 18 November 1965. (3) Riwayat tanah tertanggal 21 Februari 1985. (4) Buku rincik Kampung Panasakkang, Afdelling Tanralili, Adatg Maros, Lompok Lahija. (5) Kohier Padjek Boemi, 1942 T/M 1950. (6) Lontar Pusaka, Kampung Panasakkang, Desa Kuru’sumange, Kec. Mandai, kab. Maros,” lanjut kata Kuasa Hukum pemilik lahan.

“Fakta hukum lainnya adalah di lokasi tersebut terdapat makam keluarga antara lain, makam almarhum Bandoe, Alm. Maroeddin Bin Bandoe selaku saudara Lahija Bin Bandoe dan anggota keluarga lainnya,” ungkapnya.

Sehingga pihaknya akan melakukan upaya hukum sebagai berikut:

1. Menempuh upaya hukum berupa tuntutan pidana melalui kepolisian republik Indonesia. Dengan mengacu pada dugaan adanya indikasi pelangaran pidana atas tindakan penyerobotan dan penggelapan barang tidak bergerak dengan menggunakan dokumen palsu sesuai dengan KUHPidana pasal 266 ayat 2, dengan ancaman. hukuman maksimal 7 tahun penjara yang saudara lakukan, dan atau melanggar pasal 385 karna sudah melakukan penyerobotan dan mengambil keuntungan.

2. Meminta BPN Maros dan Kanwil BPN Sulsel untuk memblokir sekaligus membatalkan sertifikat yang akan timbul diatas lahan milik  ahli waris Lahija Bin Bandoe (Lahija Petta Mamangka) tersebut.

3. Meminta Kepada Kepala Desa Kuru’sumange dan camat tanralili untuk tidak menerbitkan surat apapun di atas tanah milik ahli waris Lahija Bin Bandoe (Lahija Petta Mamangka) tersebut.

4. Melakukan Penyegelan/Penutupan/Penguasaan fisik atas milik ahli waris Lahija Bin Bandoe (Lahija Petta Mamangka) tersebut sampai batas yang tidak ditentukan.

Untuk sementara status tanah tersebut sudah terjual hingga berulang kali.

Hingga berita ini turun Kepala Desa Kurusumange belum memberikan klarifikasi meski sudah dikonfirmasi, sehingga Redaksi menunggu klarifikasi.

Komentar

News Feed