oleh

Seperti Inilah Tradisi Menguyah Pinang Warga Papua

-Berita-85 views

FAKFAK – Tradisi yang masih melekat untuk Orang Asli Papua (OAP) adalah budaya makanan pinang, mengunyah pinang ini merupakan tradisi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Masyarakat di Papua mayoritas senang makan pinang karena pinang juga dapat memberi manfaat seperti memguatkan gigi, gusi dan menghilangkan bau mulut.

Hal ini disampaikan oleh Ibu Hardiles sapaan pendeknya bersama ibu yang lainnya yang sedang mengunyah pinang di pasar ikan Tanjung Wagon Fakfak pada jumat (12/2/202 ) Siang.

Menikmati pinang punya sensasi tersendiri dari rasanya, dan sebagai pelengkap makan pinang adalah kapur, kapur ini di dapat dari membakar karang laut. Buah pinang semakin dikunyah semakin nikmat ditambah batang sirih sebagai penetral getir getah pinang saat di kunyah.

Pada umumnya, buah pinang yang bagus dapat menghasilkan cairan yang kental saat di kunyak, batang sirih dicelup kedalam bubuk kapur dan dikunyak bersama pinang.

Hasil dari kombinasi ini adalah cairan kental yang berwarnah merah, seperti darah yang di ludahkan ketanah oleh pengunyak pinang.

“Sisa kunyak yang diludahkan ketanah itu dapat menyuburkan tanah atau tanaman, ternyata masih tergolong sampah organik,” kata Ibrahim Bay.

Masih bersama Ibrahim Bay, menuturkan tradisi megunyak pinang pada umumnya dikakukan oleh wanita yang lanjut usia, khususnya di papua tradisi ini diwariskan secara turun temurun. Tidak heran, banyak kaum tua usianya diatas 80 tahun giginya masih utuh.

Buah pinang beserta pelengkapnya dapat kita temui di pasar kelapa dua dan pasar ikan Kab. Fakfak Papua Barat. Umumnya satu paket buah pinang, kapur, dan batang sirih seharga 20 ribu.

Namun, bagi masyarakat papua paket ini hanya sekali pakai habis.Rata rata seorang penyunyak pinang dapat menghabiskan 1-3 paket sehari menikamati pinang, tradisi yang tak perna akan hilang,” tutup Ibrahim Bay.

(Tim)

Komentar

News Feed