oleh

Dialaog Pelibatan Civitas Akademika Dalam Pencegahan Terorisme

-Berita-12 views

MAKASSAR – Forum Komunikasi Perguruan Tinggi (FKPT) Sulsel dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar dialog dalam rangka pelibatan civitas Akademika dalam pencegahan terorisme.

Dialog ini digelar di Auditorium Al Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI) Jalan. Urip Sumohardjo Kota Makassar, Selasa, 03, November 2020.

Adapun narasumber yang tampil sebagai pembicara antaranya, Yudi Zulfahri (Mantan Napiter), Husein Ja’far Al Haddar (Inisiator Islam Cinta), DR. KH. M Zain Irwanto (Wakil Rektor IV Bidang Dakwah), Suaib Pramono. S.Pd (Bidang Kepemudaan FKPT Sulsel)

Dr. KH. Muammar Bakry, Lc. MA.Ketua FKPT Sulsel, dalam sambutannya menuturkan FKPT adalah mitra strategis BNPT dalam penanganan dan penanggulangan terorisme di seluruh daerah.

“Kegiatan ini dalam rangka untuk menjalin silaturrahmi antar civitas akademika dan Forkopimda untuk mempersempit gerakan kelompok terorisme,” papar Dr. KH. Muammar Bakry, Lc.

Sementara itu, Rektor UMI Prof. Dr. H. Modding Basri, SE. Msi. dalam sambutannya UMI telah melaksanakan metode pencegahan terorisme dengan pencerahan kalbu (Pesantren Kilat) kepada mahasiswa ataupun Dosen baru yang akan bergabung di Kampus UMI.

Dia mengapresiasi atas pemilihan UMI sebagai wadah pertemuan antara pemerintah dengan civitas academica dalam pencegahan perkembangan terorisme.

Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid SE. MM. Direktur Pencegahan BNPT RI di kesempatan pemaparannya mengungkapkan program kegiatan pencegahan terorisme dilaksanakan rutin di seluruh Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia.

“Kegiatan penanggulangan terorisme mulai dilaksanakan Pasca Reformasi saat Bom Bali 2002 sehingga terbit Perpu No. 2 terkait pemberantasan terorisme,” ujar Brigjen Pol Ahmad Nurwakhid SE. MM.

Ditambahkan kelompok terorisme selalu berdekatan dengan kelompok Radikal, namun tidak semua kelompok radikal merupakan terorisme.

Lanjut, kelompok terorisme tidak hanya ada dalam agama islam namun di agama lainnya yang biasanya berada pada kelompok mayoritas.

Dikandaskan radikal terorisme tidak dapat ditangani hanya oleh pemerintah namun seluruh elemen masyarakat.

“Ideologi Pancasila adalah kesepakatan Founding Father NKRI, yang merupakan implementasi dari seluruh agama yang positif dan merangkul seluruhnya,” pungkas Jenderal berbintang satu ini.

Husein Ja’far Al Haddar (Inisiator Islam Cinta/Narasumber) menuturkan Nabi Muhammad SAW mengajarkan untuk mengutamakan kedamaian dan agama islam adalah Rahmatal Lilalamin (merupakan rahmat bagi seluruh alam).

“Beberapa daerah yang mayoritas Islam saat ini kurang menerapkan syariat islam dalam kehidupan sosial, sehingga moral yang diajarkan Islam sebenarnya tidak terbentuk,” paparnya.

Ditambahkan perspektif Tasawuf harus dilaksanakan yang terdiri dari : introspeki, akhlak, hati-hati, solutif, akomodatif, moderat dan rendah hati.

DR. KH. M Zain Irwanto (Wakil Rektor IV Bidang Dakwah) dalam makalahnya mengulas ada 6 prinsip yang perlu dikembangkan dalam pendidikan moderasi bergama yaitu sikap humanis, realistis, inklusif, adil, kerjasama dan toleran.

4 langkah mengembangkan moderasi beragama untuk generasi milenial meliputi :

1) Manfaat perkembangan teknologi media sosial dalam menyebarluaskan moderasi beragama.

2) Melibatkan generasi milenual dalam kegiatan positif di masyarakat

3) Perlu ada ruang dialog yang memadau bagi generasi milenial baik di lembaga pendidikan dirumah dan masyarakat.

4) Mengoptimalkan fungsi keluarga sebagai lembaga pembinaan karakter yang positif.

Suaib Pramono, S.Pd (Bidang Kepemudaan FKPT Sulsel) mengangkat materi yang membahas berdasarkan survei mahasiswa di 5 Kampus Besar di Kota Makassar, lebih dari 50 persen menyetujui sistem khilafah diterapkan.

“Agar setiap kampus tetap waspada dan terus melakukan pemantauan dan pembinaan terkait penyebaran paham paham Radikal yang menyimpang,” paparnya.

Yudi Zulfahri (Mantan Napiter/Narasumber) dalam pembahasannya membahas dirinya
pernah bergabung dalam kegiatan terorisme dan sempat dipenjara selama 5 tahun di Aceh.

Dilanjut, terorisme adalah tindakan kekerasan yang berbasis Ideologi dan menganggap kelompoknya benar, sehingga dapat dengan cepat menyebar jaringannya.

Adapun tahap paparan terorisme itu meliputi,
– Intoleran : merasa hanya pandangan kelompoknya adalah benar dan diluar dari pemahamannya adalah salah.

– Radikalisme : Timbunya rasa kebencian terhadap kelompok yang memiliki paham berbeda.

– Terorisme : Proses mulai membentuk kelompok terorisme dan menentukan beberapa target yang dianggap salah.

– Aksi Teror : Proses akhir dalam perencanaan pelaksanaan teror yang dianggap benar dalam ajarannya.

Hadir di acara dialog ini antara lain ,
Dr. H. Andi Intang Dulung, M. Hi. Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT RI, Letkol Laut Setyo Pranomo (lKasi Partisipasi Masyarakat BNPT RI), Anshar (Kebangpol Prov. Sulsel), Kolonel Inf Alfin Dahlan (Aster Kasdam XIV/Hasanuddin). Kompol Jamal Faturrahman (Kapolsek Panakukang).

(Tim)

Komentar

News Feed