oleh

GERMAK : Usut Kasus Jembatan Bamba Kab. Pinrang diduga Rugikan Negara Rp 2,4 Milyar

-Berita-16 views

MAKASSAR – Gerakan Mahasiswa Anti Korupsi (GERMAK) Kota Makassar desak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulsel mengusut tuntas kasus Jembatan Hamba Kab. Pinrang yang diduga merugikan negara sebesar Rp 2.4 Milyar.

Desakan ini diungkapkan di saat aksi unjuk rasa di depan Kantor Kejati Sulsel Jalan Urip Sumiharjo Kel. Sinrijala Kec. Panakukang Kota Makassar. Senin (23 September 2020).

Germak dimotori Muh. Ainun Najib. selaku Korlap dengan massa 500 orang sebagai rangkaian menyikapi
Isu penelitian kembali terhadap Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), mantan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kab.Pinrang Ir. H. Suardi Saleh M.Si. (Bupati Barru – red) dengan dugaan kerugian negara berdasarkan temuan BPKP proyek Jembatan Bamba Kab.Pinrang Tahun Anggaran 2011.

Tuntutan lainnya para pengunjuk rasa tangkap dan penjarakan Bupati Barru (Ir. Suardi Saleh, M.,Si).

Lanjut, PPK/Mantan Kadis PU Kab. Pinrang yang harus bertanggung jawab atas ambruknya Jembatan Bamba Kab. Pinrang.

Selain itu, Jembatan Bamba dinyatakan total loss oleh Ahli Bina Marga Prov. Sulsel berdasarakan temuan Tahun 2018

“Kami menuntut pihak berwajib untuk berlaku adil atas kasus ambruknya Jembatan Bamba Kab. Pinrang, serta usut tuntas kasus Jembatan Bamba Kab. Pinrang Tahun anggaran 2011 menelan kerugian negara sebesar Rp 2,4 M”, ujar Ainun.

Adapun bentuk aksi para pengunjuk rasa melakukan orasi secara bergantian dengan menggunakan sound system diatas mobil komando dengan Nopol DK 4 MA, serta membentangkan spanduk bertuliskan berikut ; Kejati Sulsel Harus Melakukan Penyelidikan dan Pemeriksaan Lanjutan Kasus Korupsi Proyek Pembangunan Jembatan Bamba Tahun Anggaran 2011, Jembatan Bamba dinyatakan Total Loss Oleh Ahli Bina Marga Berdasarkan Temuan Tahun 2018.

Hasil pantauan di lapangan adapun rangkaian aksi para pengunjuk rasa meliputi diawali membakar ban bekas di depan Kantor Kejati Sulsel.

Selanjutnya, masa aksi mulai arogan memanjat pintu Kejati Sulsel karena kecewa pihak Kejati belum mau menemui masa aksi.

Tidak berakhir hingga disitu, massa aksi kembali arogan merusak fasilitas papan reklame yang ada di depan Kantor Kejati Sulsel bukti kekecewaan karena pihak Kejati belum menemui masa aksi.

Alhasil, massa aksi diterima oleh penerima Aspirasi Kejati Sulsel, Irwan somba (Kasi Intel Kejati Sulsel), Idil SH.(Kasi Penkum bidang intelejen Kejati Sulsel) dan. Lukman (Kasi E / Bid. Intel),

Pihak Kejati meminta maaf pimpinan Kejati maupun para pejabat lain sedang berada di Unhas dan tidk bisa menemui para pengunjuk rasa dikarenakan sedang mengikuti rapat masalah undang – undang di Kampus Unhas.

Adapun proses penyelidikan perkara ini awalnya disidik oleh Kepolisian Pinrang setelah ada MOU bergulir ke Kejari Pinrang dengan adanya sejumlah audit dari penyelidikan hasil audit menunjukkan siapa saja tersangka dalam perkara ini akan diproses persidangan, hanya ada 2 orang tersangka dalam perkara ini hingga putusan inkrah dan hingga saat ini belum ada bukti baru yang bisa dihadirkan.

Fakta-fakta persidangan, tambahnya dituangkan dalam memori tuntutan JPU itulah yang menjadi landasan hukum proses kasus hukum ini berjalan hingga inkrah.

Sementara itu Lukman (Kasi E / Bid. Intel) dalam tanggapannya pihaknya tidak menutup pintu untuk analisa hukum, bukti, namun yang baru untuk membuka kembali kasus ini.

Dikandaskan jadi berdasarkan putusan yang sudah inkrah dari Kejari Pinrang maka kasus ini tidak bergulir di Kejati, pihaknya hanya mengawasi namun bilamana ada fakta, atau bukti baru yang bisa dihadirkan maka pihaknya siap untuk membuka kembali kasus ini.

Usai aspirasi Massa Aksi diterima selanjutnya meninggalkan Kantor Kejati Sulsel dengan aman, menuju Kantor GERMAK di Jalan Gunung. Bawakareang Kota Makassar.

(Tim)

Komentar

News Feed