oleh

Tim Gugus Tugas Covid-19 Sul-Sel dan Menko Bidang Kemaritiman RI Gelar Rakor Via Vicon

MAKASSAR – Tim Gugus Tugas Covid-19 Prov. Sulsel melaksanakan rapat koordinasi ( Rakor) via video conference bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi RI dengan agenda prosedur di Rumah Sakit dalam penanganan Covid-19, di Balai Jend. M. Yusuf Jl. Jend. Sudirman Kec. Ujung Pandang Kota Makassar, 21 September 2020.

Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI. Luhut Binsar Panjaitan dalam arahannya menuturkan pihak Satgas Covid 19 harus memastikan setiap rumah sakit itu memiliki peningkatan makanan gizi dan setiap dokter dan perawat mereka harus dites agar memastikan mereka aman.

Jatim dan DKI memiliki angka kematian yang cukup tinggi ini menjadi titik perhatian.

“Protokol terapi standar penanganan pasien Covid-19 telah selesai disusun oleh Kemenkes dan mendapatkan masukan dari berbagai organisasi profesi dan tim rumah sakit”, papar Luhut Binsar Panjaitan.

Dia minta Kemenkes untuk mensosialisasikan protokol terapi ini kepada seluruh Rumah Sakit Provinsi. Sosialisasi ini harus dilanjutkan dengan pendampingan dokter dan nakes.

“Kementerian Kesehatan harus memastikan ketersediaan obat dan alat terapi yang dibutuhkan harus siap”, kandas Luhut.

dr. Alexander K. Ginting,Sp.P, F.C.C.P. Staf Khusus Menkes Bidang Pembangunan dan Pembiayaan Kesehatan menguraikan tatalaksana manajemen klinis ringan sedang dan berat sudah terangkum dalam protokol tatalaksana Covid-19 Kemenkes yang melibatkan lima organisasi profesi dokter spesialis.

Ditambahkan derajat ringan artinya isolasi Mandiri di rumah masih bisa dan kondisi pasien tetap di monitoring dan obat-obatan disiapkan.

“Derajat sedang pada saat dia sudah derajat sedang dia sudah harus mengkonsumsi anti virus anti bakteri dengan demikian derajat sedang tidak jatuh dalam derajat berat”, ujar dr. Alexander K. Ginting.

Ditambahkan derajat berat isolasi dan pemantauan tetap mengkonsumsi anti virus, anti bakteri dan mempertahankan hemodinamik dan tetap mempertahankan kesehatan.

Berbagai Faktor yang berpengaruh terhadap angka mortalitas di ICU meliputi, sistem rujukan, terlambat datang, diagnosa terlambat ditegakkan, pengobatan yang tidak adekuat, oksigen ventilasi pemantauan perjalanan penyakit penanganan arts kurang kuat, terakhir ventilator tidak tersedia

Ditegaskan Strategi menurunkan angka kematian ICU tatalaksana pasien dengan gejala barat sesuai protokol Covid-19 yang disepakati.

Salah satu penyebab kematian Covid-19 di rumah sakit yaitu gagal nafas ataupun gagal kardiologi.

“Sebagai resume pada pertemuan kita kali ini Kemenkes bersama lima organisasi sepakat untuk melakukan monitoring klinik secara virtual dan secara langsung di rumah sakit perawatan dan rumah sakit rujukan”, kandasnya.

Gubernur Sulsel. Prof. Dr. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr, dalam sambutannya terkait dengan Rumah Sakit ada 46 Rumah Sakit penyangga dan 2 rumah sakit rujukan utama dan rumah sakit lainnya, Alhamdulillah ekspansi Covid-19 hanya 20%.

Diuraikan wisata Covid-19 masih berjalan walaupun itu pun 8 Hotel tinggal 2 hotel yang dipergunakan sementara nakes dan dokter masih ada tiga Hotel kita gunakan.

“Tadi pagi bersama Kapolda dan Pangdam kami menyimpulkan situasi dan seluruh Forkopimda kemarin waktu pendaftaran Paslon merisaukan kita karena tidak mengikuti protokol kesehatan secara ketat karena kita takutkan ini akan menjadi Cluster terbaru”, papar Nurdin Abdullah.

Rakor ini dihadiri sejumlah pejabat di daerah ini meliputi, Mayjen TNI Andi Sumangerukka, SE . Pangdam XIV/Hasanuddin, Kolonel Ckm dr. Soni Endro Cahyo. Kakesdam XIV/Hsn. Kolonel Ckm Dr. Pontjo Winarko. Karumkit RS. Tinggal II Pelamonia. Kolonel Inf Janen Silalahi. Asops Kasdam XIV/Hsn. Kolonel Kav. Abd. Haris. Asops Gugus tugas Prov. Sulsel.

(Tim)

Komentar

News Feed